Jumat, 28 Oktober 2011

untaian NASEHAT


Sampaikanlah nasehatmu kepadaku dikala aku sendirian…..,

Tahanlah nasehatmu untukku ketika di hadapan manusia, karena menyampaikan nasehat dihadapan manusia adalah memburukkannya yang mana aku tidak ridho mendengarnya
Jika nasehatmu menyelisihi diriku dan aku menentang perkataanmu, maka janganlah engkau sedih tatkala nasehatmu….TIDAK MENGHASILKAN KETAATAN.

- Imam Syafi’i ; Diwan Asy-Syafi’i 56 -

Untaian Hikmah


“Saudaraku begitulah hidup di dunia, kita bisa memilihnya dengan hati tertunduk atau dengan nafsu yang menggelegak, kitapun boleh memilih antara takut kehilangan dunia atau kehilangan Allah.”
“Do’a untuk kemenangan kita atas ‘mereka” “Allahumma Munzilal-kitab, wamujriyas sahab, ihzimhum wanshurhuna ‘alaihim” : “Wahai yang menurunkan kitab yang menjalankan awan yang ……..Hancurkan musuh-musuhMu ya Allah, dan menangkan kami atas mereka.”
“Kesalahan awal yang dilakukan oleh kebanyakan manusia yang membuat mereka salah dalam langkah-langkah berikutnya adalah menyangka ada yang lebih hina dan mudah ketimbang dirinya”
“Siapa yang membebani hatinya dengan kerisauan terhadap dunia dan meremehkan dzikir kepadaNya maka ia bagai musafir yang membebani kendaraan secara berlebihan tanpa bahan bakar yang cukup, kapan sampainya?”
” Bila kau dilanda gulana, maka goreskan ia dihamparan pasir maya agar segera sirna disapu angina safa. Namun jika bahagia yang kau rasa maka pahatlah di batu karang agar ia mengharu sukma”
” Jika kau ingin memperoleh berbagai anugrah maka rasakanlah semua kesusahan yang selama ini menghimpitmukemudian merintihlah kepadaNya. Sesungguhnya Allah pasti menolong hamba yang butuh kepadaNya.”
“Apa yang berlalu di dunia adalah mimpi, apa yang belum ada pada kita adalah angan-angan dan apa yang sekarang ada di tangan adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan.”
“Jika Allah ingin menyelamatkan hambaNya Dia kirimkan pasukan cahaya penghalau pekatnya kegelapan. Rengkuhlah pendar cahayanya dengan bening hati dan dzikir selalu kepadaNya.”
“. Umar bin Khatab : Jika kau sabar maka ketentuan Allah tetrap berjalan dan kamu mendapat pahala dan jika kamu tidak sabar tetap berlaku ketentuan Allah sedang kamu mendapat dosa”
” Termasuk ghurur (menipu diri) : meminta surga tapi malas beribadah dan beramal shalih, serta mohon dijaga dari siksa neraka tapi tiada henti berbuat buruk dan sia-sia”
” kalu kamu merasa kesepian dalam hidup ini maka sesungghnya inilah kesempatan bagimu untuk mendengarkan suara ’langit” yang membuat dirimu takkan pernah kesepian untuk selamanya”.
” mendengki berarti membenci ketentuan Allah, tidak rela dengan kehendakNya, tidak menerima keadilanNya dan mengingkari kebijaksanaanNya(Ya Allah lindungi kami dari dengki)”
” mati hanya sekali, karena itu matilah di jalan yang disukai Allah”
“Hujamkan dirimu dibumi kerendahan hati, karena segala yang tumbuh tapi tidak menghujam ke dalam bumi, maka ia takkan menghasilakn ”buah’ yang baik, disamping iapun mudah tumbang.”
” kedustaan seorang hamba adalah saat ingatan dan pandangan terhadap makhluk mengalahkan ingatan dan pandangan mereka akan Allah. Ya Allah sekejappun jangan kau palingkan kami dariMu”
” Kalau kau merasa sedih tinggal di dunia ini, maka bersiaplah dikejutkan oleh kematian orang-orang yang kau cintai, namun kematian dirimu akan jauh lebih mengejutkan….”
” Ya Allah setiap kali kegelapan merasuki maya, hati inipun serasa gelap tiada cahaya. Namun begitu mentari pagi mencahayai semesta jiwa inipun tetap hitam dalam gulita.”
” banyak orang yang sngat kikir dengan hartanya, namun lebih banyak yang kikir dengan umurnya, mereka menyimpan sang umur di sebuah lemari besi bernama ”kemalasan”
” sampai kapanpun manusia tak kan bisa mendengar suara ’langit” yang syahdu menghidupkan qalbu, selagi denting suara ”bumi’ masih bergemuruh membelanggu nurani hati”

Mengapa Allah Menyuruh Kita Berdoa???

Sobat rohimakumullah!
Suatu ketika dalam sebuah majelis ilmu ada seorang santri bertanya pada Pak kyai,
“Pak Kyai, mengapa Allah menyuruh kita berdoa? Apakah karena Allah tidak tahu kebutuhan kita? Kalau Allah itu tahu kebutuhan kita (hambaNya), harusnya tanpa kita memintapun, Allah akan memberi kan Pak Kyai? Karena Allah itu Maha Memberi. Jadi untuk apa kita berdoa Pak Kyai?”

Mendengar pertanyaan itu seketika seisi ruangan masjid agung yang besar itu terkesiap. Semua diam dan hening. Sungguh pertanyaan yang sangat berani. Tapi saya pikir masuk akal juga. Setelah diam sejenak Pak Kyai yang arif dan bijaksana itu, dengan tersenyum penuh kelembutan memberikan jawaban yang sangat gamblang.
“Anakku, Allah menyuruh kita berdoa, itu bukan berarti Allah tidak tahu kebutuhan kita. Allah itu Maha Tahu. Bahkan Allah jauh lebih tahu kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Coba pikir! Apa pernah kamu berdoa, “Ya Allah berikanlah aku udara”. Tidak pernah kan? Tapi Allah memberikan, karena Allah tahu kita butuh udara. Begitu juga dengan kebutuhan kita yang lain. Sebenarnya teramat banyak yang tidak kita minta tapi Allah memberikan. Karena apa? Karena Allah tahu bahwa kita butuh. Ini yang pertama.
Yang kedua, Allah menyuruh kita berdoa bukan berarti Allah butuh doa kita, tidak. Sama sekali tidak. Seandainya semua manusia bahkan termasuk semua jin menolak berdoa kepadaNya, kemuliaanNya tidak akan berkurang sedikitpun. Demikian juga sebaliknya. Seandainya semua manusia dan jin berdoa kepadaNya tidak akan menambah kemuliaanNya sedikitpun.
Lalu yang jadi pertanyaan : 
“mengapa Allah menyuruh kita berdoa?”
Allah menyuruh kita berdoa karena :
1. Untuk senantiasa mengingatkan bahkan kita ini hanyalah seorang hamba. Dengan senantiasa mengingat bahwa kita ini hanyalah hamba, maka kita akan terhindar dari sikap sombong, takabur dan tinggi hati.
2. Doa itu adalah dzikir.
Dengan berdoa berarti telah mengingat Allah Tuhan Pencipta kita. Dengan mengingat Allah maka hati kita akan tenang. Hiduppun juga akan tenteram. Sebagaimana firman Allah dalam QS Ar Ra’d ayat 12 :’ yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Jadi, hanya dengan senantiasa mengingat ”Allah”lah hati kita maupun hidup kita akan tenang. Hal ini kita butuhkan to?
3. Doa itu adalah tujuan, keinginan atau target yang ingin kita capai. Ketika kita berdoa “Ya Allah, limpahkanlah kepadaku rezeki yang melimpah”. Maka rezeki yang melimpah adalah target kita. Tentunya target tidak akan pernah tercapai bila tidak disertai usaha yang optimal.
Ibarat orang bercocok tanam, usaha itu adalah benihnya. Sedangkan doa adalah pupuknya. Jadi doa yang tidak disertai usaha sama saja seperti menebarkan pupuk tapi tak pernah menaburkan benih. Ya….kapan akan panen?
4. Doa itu penyemangat, pemberi harapan. Jadi orang yang berdoa adalah orang yang masih punya harapan. Dengan adanya harapan hidup akan lebih bersemangat, lebih bergairah.
5. Yang paling penting, doa itu adalah intinya ibadah. Sebagai hamba Allah tugas utama kita adalah beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang baik ibadahnya akan senantiasa mendapatkan ridhoNya. Siapapun yang mendapatkan ridhoNya akan bahagia hidupnya baik didunia yang fana ini maupun nanti diakhirat yang kekal. Siapa yang tidak ingin bahagia hidupnya, hayo…siapa?

Jadi hakekatnya kitalah yang butuh berdoa, bukan Allah bukan siapapun. Oleh karena itu selama masih ada waktu marilah kita perbanyak doa, smoga Allah meridhoi kita . Amin.
Wallahu a’lam.

Siapa Sesungguhnya Yang Menang???

Ketika mentari yang tinggal semburat, lenyap ditelan cakrawala. Mega memerahpun hadir terhampar indah bagai permadani istana turki. Berhiaskan bintang gemintang bertaburan laksana intan mutu manikam. Semuanya begitu indah mempesona. Seakan Jagat raya sedang bersuka, menyambut datangnya hari yang indah, hari yang baru, hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh orang beriman di dunia.
Mereka telah menjalankan ibadah puasa secara khusuk selama 1 bulan penuh. Inilah hari kemenangan itu. Hari kemenangan setelah orang mukmin selama 1 bulan menaklukkan hawa nafsunya. Mereka bertakbir, bertahmid, memuji kebesaran Allah seraya berharap puasa yang telah ditunaikan diterima, dosa-dosa terampuni dan dihari kemenangan ini mereka benar-benar kembali pada fitrah yang suci. Mereka bersukacita mengumandangkan takbir, tahmid menggetarkan hati hingga fajar menyingsing.
Ketika mentari pagi mulai hangat membelai, mereka berduyun-duyun menuju masjid, menuju tanah lapang guna bersujut pada Illahi Robi. Khutbah id dibacakan sepenuh hati, menggugah dan menambah keimanan yang sedang tubmbuh subur dan bersemi. Setelah itu mereka bersalam-salaman, bersilaturohim. Saling memaafkan antara suami dengan istrinya, orangtua dengan anaknya, dengan tetangga-tetangganya, sanak saudara, teman sejawat, dengan semuanya. Semuanya! Tidak peduli kaya miskin, pejabat maupun rakyat, besar maupun kecil, tua muda, semuanya berlapang dada untuk meminta maaf dan memaafkan. Sungguh hari yang sangat indah.
Namun entah! Mengapa ada yang hilang hari ini? Mengapa tak kudengar lagi adzan dhuhur berkumandang? Ketika malam menjemput, tak kulihat lagi jamaah yang melimpah ruah seperti kemarin sehingga masjid agung yang luas ini tak mampu menopang mereka yang begitu banyak. Mengapa tak kulihat lagi para jamaah yang dengan ghirahnya membaca Alqur’an seakan mereka berloma-lomba mengkhatamkan Al Qur’an. Mengapa tak kulihat lagi orang-orang yang berlomba-lomba infak, sedekah, memberi makan pada si fakir miskin. Mengapa tak kulihat lagi mimbar yang selalu terisi para da’I yang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Kemanakah mereka semua? Sakitkah? Mengapa masjid ini kembali sepi? Jamaah sholat maghrib, ‘isak tinggal sebaris lagi. Jamaah subuh tinggal segelintir lagi. Bahkan sholat jum’atpun khotibnya tak nampak lagi. Kemanakah mereka? Sakitkah? Atau mudikkah?
Kini hampir satu bulan hari itu berganti. Tapi mengapa masjid ini masih sepi bahkan semakin sepi? Kemanakah mereka yang ketika romadhan memenuhi masjid ini dengan lurus dan rapatnya shof sholat jamaah? Kemanakah mereka yang ketika ramadhan menegakkan sholat wajib maupun qiyamul lail? Kemanakah mereka yang ketika romadhan meramaikan masjid dengan gemuruh bacaan al Qur’an yang menggetarkan dada setiap mukmin. Kemanakah mereka? Sakitkah? Sakit apa sampai satu bulan belum sembuh? Ataukah mereka pulang kampung dan tak kembali lagi? Atau justru mereka telah berpulang?
Ditengah ketidak mengertianku, kubuka kembali catatan-catatan usangku. Akhirnya aku terpaku pada salah satu hadist riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasullah SAW pernah bersabda “Apabila bulan Ramadhan datang maka dibukakanlah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta dibelenggulah setan-setan”.
Apakah Ini biangnya? Inikah penyebab semua itu? Karena Ramadhan telah berlalu maka pintu-pintu neraka yang dulu ditutup kini telah terbuka kembali? Ataukah karena setan-setan yang dulu terbelenggu kini telah dilepaskan kembali? Sehingga mereka kembali tergoda dan tergelincir pada nafsu-nafsu yang keji? Lantas apa yang mereka dapatkan selama berlapar-lapar 1 bulan ketika itu?
Aku masih terduduk diatas kebingunganku, tiba-tiba suara penuh wibawa menegurku. “Wahai Jin penunggu masjid! Mengapa engkau selalu merisaukan itu? Bukankah setiap tahun sudah seperti itu? Itulah manusia!”, kata malaikat yang sejak tadi mengamatiku. Aku hanya bisa mengangguk kelu.
Tapi aku tetap tidak mengerti “ Mengapa masjidku ini ramai hanya pada saat itu? Lantas apakah arti hari kemenangan itu? Siapakah sebenarnya yang menang ketika itu? Manusiakah? Atau justru iblis dan setan yang ketika itu terbelenggu?”.
*******

Kunci Surga

Sobat rohimakumullah
Ketika ajal hampir menjemput Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW yang senantiasa melindungi beliau dari ancaman kaum kafir quraisy. Saat itu Nabi Muhammadpun bersimpuh disisinya seraya bersabda “Wahai paman, ucapkanlah 
La Ilaha Illallah, satu kalimat yang dapat engkau jadikan hujjah disisi Allah”.
Namun ketika mendengar ucapan Rasulullah, Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah yang berada disisi Abu Thalib segera menyela, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak menyukai agama Abdul Muththolib?”.


Selanjutnya mereka berdua tak pernah berhenti mengucapkan kata-kata itu hingga akhirnya Abu Thalibpun meninggal dalam keadaan kafir sesuai hasutan mereka berdua. Rosulullahpun bersedih, air matanya tumpah. Karena beliau tahu pasti bahwa paman yang paling dicintainya kelak di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka. Doa-doapun dipanjatkan ke hadiratNya, agar paman tercinta diampuni dosa-dosanya. Namun Allah SWT tidak berkenan mengabulkannya, karena Abu Tholib meninggal dalam keadaan kafir, belum pernah berikrar syahadat SEKALIPUN!. Maka Rasulpun hanya bisa mohon keringanan hukuman untuk pamannya sebagaimana sabda Beliau “ Semoga syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat nanti, sehingga dia diletakkan dineraka yang dangkal, hanya sebatas tumit saja”.
Sobat!
Seandainya Abu Thalib mau mengucapkan kalimat syahadat 
La Ilaha Illallah. Mungkin akan lain jadinya. Karena kalimah la ilah illallah merupakan kunci surga. syahadat adalah bekal yang harus kita bawa agar kita dapat membuka pintu-pintu surga.
Namun yang jadi pertanyaan, cukupkah kita hanya berucap 
la ilaha illallah?
Terkait dengan ini suatu ketika ada orang bertanya kepada Wahb bin Munabih “ Bukankah 
la ilaha illallah adalah kunci surga?
Beliau menjawab,” Benar, namun tidak ada satu kuncipun kecuali mempunyai gigi. Jika kamu menggunakan kunci yang bergigi, pintu akan terbuka, jika tidak maka tidak akan terbuka”
Sobat!
Yang dimaksud gigi tersebut adalah syarat-syarat yang harus kita penuhi agar syahadat kita, agar persaksian kita diterima Allah SWT dan bisa kita gunakan sebagai kunci untuk membuka pintu surga. Adapun syarat-syarat tersebut adalah :
1. Mengetahui makna yang dimaksudkan.
Syarat yang pertama kita harus tahu, faham akan makna kalimat syahadat yang kita ucapkan bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah. Bukankah Rasul pernah bersabda, “ Barangsiapa mati dan dia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, ia masuk surga”. (HR.Muslim)
2. Yakin dan tidak ragu-ragu.
Barangsiapa yang berikrar syahadatain, faham maknanya dan dengan penuh keyakinan tanpa keraguan sedikitpun, maka baginya surga. Sebagaimana sabda Rasul SAW, “aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba yang bertemu Allah dengan kedua kalimat ini dan tidak ragu-ragu tentang keduanya, kecuali masuk surga”.
3. Menerima konsekuensi dari kedua kalimat tersebut.
Karena syahadat hakekatnya adalah merupakan pernyataan, ikrar, sumpah, janji dan monoloyalitas terhadap Allah dan Nabi Muhammad SAW, maka didalam hidup, kita harus patuh, tunduk dengan aturan-aturan Allah SWT.

4
. Jujur, tidak dusta
Apa yang diucapkan harus benar-benar keluar dari hatinya. Jangan sampai kita mengikrarkan syahadat sementara didalam hati kita menyelisihinya. Itu munafik namanya, dan Allah SWT Maha Tahu terhadap apa yang tersembunyi di dalam relung-relung hati kita. maka barangsiapa berdusta, maka sesungguhnya dia telah mendustai dirinya sendiri.
.
5. Ikhlas
Ikhlas berasal dari kata Khalis yang artinya murni. Maka ikhlas berarti memurnikan segala amal perbuatan baik lesan maupun tindakan hanya semata-mata mengaharap ridho Allah SWT. Jadi bukan karena wanita yang dinikahinya, bukan karena harta, jabatan yang dinginkannya maupun karena si fulan dsb. Tapi semata-mata karena Allah SWT.


Sudahkah syahadat kita sesuai syarat-syarat tersebut diatas? Smoga Allah SWT senatiasa membimbing kita, agar kita termasuk orang-orang yang bersyahadat dengan benar. Amin! Wallahu a’lam.

Jadikan Sabar Dan Sholat Sebagai Penolongmu

Sobat rohimakumullah.
Didalam QS Al Baqarah [2] ayat 153 Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

MENGAPA SABAR DAN SHOLAT SEBAGAI PENOLONG?
Sobat.
Kata sabar lebih dari seratus kali disebut didalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya makna sabar. Karena sabar merupakan poros, sekaligus inti dan asas segala macam kemuliaan akhlak. Jika kita telusuri lebih lanjut ternyata hakekat seluruh akhlak mulia, sabar selalu menjadi asas atau landasaannya. Misalnya :


• ‘Iffah (menjaga kesucian diri) adalah merupakan bentuk kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat.
• Syukur adalah bentuk kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat dari Allah SWT.
• Qana’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) adalah sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan.
• Hilm (lemah lembut) adalah kesabaran dalam mengendalikan amarah.
• Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam.
• Demikian pula keutamaan akhlak lainnya, semuanya bersumbu pada kesabaran
Dengan kata lain secara psikologis kita bisa memaknai kesabaran sebagai suatu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Jadi sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT.
Maka orang yang sabar adalah orang yang mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputus asaan tapi merupakan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi dimana kita harus marah misalnya maka marahlah secara bijak dan diniatkan untuk kebaikan bersama.

Sobat rohimakumullah.
Sedangkan sholat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan gerakan dan bacaan tertentu seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Sholat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir, gerak, dan rasa. Ketiganya terpadu secara serasi dan selaras dan saling melengkapi. Dalam sholat terintegrasi proses latihan meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan, inderawi, aql, dan pengelolaan nafsu yang pada akhirnya akan menghasilkan jiwa yang bersifat muthma’innah. Orang yang memiliki jiwa muthma’innah inilah yang pada akhirnya akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai sholat dalam keseharian yaitu nilai-nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Prakteknya tercermin dalam sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, qana’ah, menjaga kesucian diri, istiqomah dsb. Dengan kata lain, orang yang sholatnya baik dalam hidupnya akan dipenuhi sifat sabar yang tercermin dalam tingginya akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah maka Rasulullah, para sahabat, dan orang-orang shaleh menjadikan sholat sebagai istirahat, sarana pembelajaran, media pembangkit energi, sumber kekuatan dan pemandu untuk meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki melimpah, sholatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup makin berat, maka sholatlah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu, sholatlah yang membebaskannya.
Maka tak heran bila khubaib bin Adi ketika akan menjalani eksekusi mati, dedengkot kafir quraisy memberi kesempatan untuk mengajukan permintaan terakhirnya. Apa yang dia minta? Ternyata yang diminta adalah kesempatan untuk sholat. Dengan kusyuk sholat dua rakaat ditunaikan. Selepas itu beliau berkata,”Andai saja aku tidak ingin dianggap takut dan mengulur-ulur waktu niscaya akan kuperpanjang lagi sholatku ini”.
Sobat. Rahimakumullah.
Memang sholat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan sholat yang berkualitas yaitu terjadinya dialog dengan Allah SWT sehingga melahirkan kenikmatan, ketenangan yang tak terhingga di hati. Barangsiapa yang mampu merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah SWT didalam Sholat maka niscaya Allah SWT akan membuka lebar-lebar pintu pertolonganNya.
Sudahkan sholat kita demikian?
Oleh karena itu marilah kita berusaha menegakkan sholat dan mewarnai kehidupan kita penuh kesabaran agar pintu pertolongan senatiasa terbuka lebar untuk kita. Amin.
Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bishowab.

Andai Kutahu Ini Hari Terakhirku


Sobat.
Bukankah Allah SWT telah berfirman, bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati? Bukankah tidak hanya Amrozi, Ali Ghufron maupun Imam Samudra, kita semua akan mati. Cuma…… entah kapan itu akan terjadi. Yang jelas pasti kita semua akan mati. Pasti! Bisa besok, lusa, atau justru hari ini.
Sobat.
Seandainya kita tahu bahwa hari ini hari terakhir kita, Apa yang hendak kita kerjakan?

o Apakah kita akan mengingat dosa dan bersimpuh untuk bertaubat nasuha dengan memperpanjang sujud dan istighfar?
o Apakah kita akan membersihkan rumah dari barang haram yang membuat malu didunia dan menjadi beban di akhirat?
o Apakah kita akan menegakkan sholat dengan berjamaah dimasjid, dengan tuma’ninah dan sekusyuk mungkin, dan tidak akan beranjak sebelum melantunkan dzikir yang menggetarkan hati?
o Apakah kita akan meminta maaf kepada orang yang telah kita dzalimi, baik dalam ucapan, perilaku maupun dalam hal harta?
o Apakah kita akan menyampaikan amanah yang dititipkan kepada kita, kepada mereka yang berhak?
o Apakah kita akan banyak membaca Al Qur’an, setelah sekian lama kita tinggalkan?
o Apakah kita akan memperbanyak sedekah kepada orang yang membutuhkan?
o Apakah kita akan menjauhi segala dosa dan segala hal yang tidak berguna?

Jika demikian, mengapa tidak kita kerjakan mulai sekarang? Bukankah, bisa jadi ini hari terakhir kita?
Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya, amal ( yang paling menentukan) adalah amal terakhirnya”.(HR.Bukhari).
Smoga Allah SWT berkenan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang khusnul khatimah. Amin!
Wallahu A’lam bi showab. semoga bermanfaat.

Disadur dari Majalah Islam Ar Risalah